Budaya Melayu Selamatkan Pemuda Sambas dari Radikalisme.

Yuk Bagikan!

Lestari Budaya Selamatkan Pemuda dari Paham Berbahaya

PojokKata.com – Dalam beberapa waktu belakangan, isu mengenai paham radikal teramat marak di Indonesia, haluan berfikir ini dikhawatirkan bertumbuh kembang, menjurus kepada tindakan terorisme.

Keberadaan teknologi yang amat pesat berkembang, seolah pupuk kimia dengan kadar tinggi yang memberikan kesuburan pada paham yang mengancam keutuhan NKRI ini, saking tingginya kadar kimia yang dikandungi pupuk tersebut, menyebabkan ianya hidup melebihi ekspektasi, bahkan bermutasi dan merasuk dengan mudah ke dalam sendi kehidupan masyarakat, dengan dan atau tanpa kita sadari.

Secara harfiah, Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata radikalisme sebagai paham, atau aliran yang menginginkan perubahan, atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. 

Kumpulan frasa ini sangat terbayangkan sebagai sebuah tindakan separatis, “take no prisoner” demikian kalimat yang biasa digunakan pad berbagai film ber genre perang, yang bertujuan mengungkapkan betapa tidak adanya belas kasih kepada yang kalah, yaitu kita NKRI.

lalu bagaimana dia tumbuh subur dan bahkan merasuk ke dalam sendi kehidupan masyarakat, siapa sasarannya dan siapa dalangnya serta bagaimana mengatasinya.

Satu diantara fenomena mencolok, bahwa paham radikalisme telah sedemikian ter sel kan, dalam tatanan kehidupan masyarakat adalah, kasus anggota Polisi Polda Jambi yang diduga turut terpapar paham radikal, sebagaimana diberitakan banyak media pada mei 2018 yang lalu.

Kemudian di Kalimantan Barat juga tak kalah heboh, dengan kasus begitu berkembangnya kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), di Bumi Khatulistiwa ini, pada awal Januari 2016. Organisasi besar pimpinan Ahmad Musadeq ini dinyatakan sebagai aliran sesat oleh Majelis Ulama Indonesia.

Yang mencengangkan, bahkan Gafatar mampu merekrut, atau memiliki pengikut, yang notabenenya merupakan individu yang terpelajar.

Lebih lanjut ke Kabupaten Sambas, daerah yang dulunya pernah terjadi kerusuhan antar etnis ini, juga terdapat aroma radikalisme, sempat beberapa waktu  lalu (Oktober 2017), seorang pemuda terpelajar terpaksa harus ditangkap oleh satuan anti teror Densus 88, karena diduga terpapar paham radikalisme.

Dan yang terbaru, yakni adanya keluhan orang tua terhadap anak lelakinya, yang sudah tidak mau sekolah lagi, karena diduga mengikuti aliran tertentu.

“Beberapa hari lalu, saudara saya mengeluh dan berkonsultasi kepada saya, tentang anaknya yang masuk atau ikut dalam aliran tertentu, masalahnya si anak yang merupakan pelajar SMA, sudah tidak mau lagi bersekolah, karena dia menganggap kehidupan bernegara ini salah, mulai dari bersekolah dan seterusnya hingga negara. Si anak juga menyalahkan cara ibadah orang tuanya,”ujar sumber yang seorang tokoh masyarakat, namun enggan disebutkan namanya, Jumat (19/10).

Melirik dari kasus yang menimpa siswa di Kabupaten Sambas tersebut serta lainnya, generalisasi target perkembangan dan lahan subur paham radikalisme ini memiliki kecenderungan, menyasar pemuda sebagai penganutnya. 

Jika memang seorang pengikut aliran tersebut adalah muda dan terpelajar, maka ini akan menjadi martil yang amat keras bagi keutuhan NKRI.

“Pemuda merupakan pengguna internet dan media sosial yang paling aktif dan massif, mereka adalah korban yang memang sedang berada ditengah-tengah medan perang,”ujar tokoh pemuda Kabupaten Sambas, Aan Sumantri.

Pantas saja, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan pada akhir 2017 saja, dari 262 juta Penduduk Indonesia, sebanyak 143 juta orang telah terhubung dengan internet, dan Sebanyak 49,52 persen pengguna internet di Indonesia, adalah mereka yang berusia 19 hingga 34 tahun. (arikel dimuat kompas.com 22 Februari 2018).

Kebun paham radikal ini berkembang melalui media sosial seperti facebook, telegram, youtube dan twitter, ini semua merupakan basis media sosial yang sangat digandrungi para pemuda.

Sebagaimana dikatakan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, pihaknya mengklaim ratusan akun dari keempat platform itu sudah dibekukan. Secara rinci, Rudiantara menyebutkan bahwa sebanyak 280 akun Telegram, 300 akun Facebook, 250 lebih akun Youtube, dan sekitar 70 akun Twitter telah ditindak.

“Dari identifikasi, ada ribuan akun yang terkonfirmasi. Ada yang sudah ditindak, ada yang belum. Kenapa belum? Karena masih dalam penyidikan Polri dan BNPT,” kata Rudiantara yang terbit di tirto id 15 mei 2018.

Tak hanya metode melalui media sosial, perkebunan radikal ini juga tumbuh dengam cara melakukan pendekatan yang persuasif, bahkan tebar pesona ala anak muda.

Dikatakan Rektor Institut Keguruan Ilmu Pendidikan PGRI Pontianak, yang juga seorang Konselor, Rustam A.Munif, pemuda lebih rentan untuk disusupi paham radikal.

“Kecenderungan pemuda lebih rentan terpapar paham radikal, dikarenakan mereka sangat mudah mengagumi akan sosok tertentu, atau seseorang,”ungkapnya.

Rustam lebih lanjut menjelaskan, seorang pengikut paham radikal akan sangat mudah mendapat respon ketertarikan, karena memenuhi unsur untuk menjadi idola anak muda.

“Bayangkan seseorang yang tampan bersih, rapi dan menarik merupakan seorang penganut paham radikal yang sedang berusaha mencari pengikut, tentunya dengan kondisi psikologis anak muda yang cenderung mudah mengidolakan, ianya akan mudah mendapatkan penganut paham melalui anak-anak muda ini, hal ini bahkan sudah pernah saya lihat sendiri,”tuturnya.

Lalu apa antidote dari racun radikal ini, saat sebarannya mengalir ibarat darah di nadi, dan siap menggerogoti hingga ujung saraf kepala, serta membuat mereka yang terinfeksi menggila lalu menekan tombol merah pembawa duka.

Rektor muda IKIP PGRI Pontianak ini lanjut menyarankan, memberikan peran besar kepada ulama dan guru konseling, bisa menjadi penawar racun yang ampuh.

“Pemerintah masih terlalu longgar terhadap paham radikal, sehingga bisa tumbuh di Indonesia, ulama harus diberikan fungsi yang strategis, mendeteksi aliran atau paham radikal mestilah melalui mereka yang benar-benar paham ajaran agama yang sesungguhnya, karena ini tidak bisa segera dibenturkan dengan undang-undang, maka para ulama lah yang mampu mendeteksi lebih dini, dan tentunya mereka dilibatkan oleh TNI dan Polri,”saran dia.

Lalu peran seorang konselor sebagai pendidik yang paling dekat dengan siswa pun dimainkan.

“Guru pembimbing sudah saatnya untuk tidak dalam konotasi memperbaiki yang rusak, akan tetapi menjaga yang sudah baik dan terpelihara, karena itu khusus di sekolah-sekolah, mulai dari SMP sampai SMA, mestilah terdapat guru bimbingan konseling, yang memang berkompeten menjadi teman sebaya murid-murid, ini pendekatan persuasif yang bisa dilakukan segera,”urainya.

Pendapat lain dikatakan oleh tokoh masyarakat, sekaligus budayawan dan kerabat Istana Alwatzikhoebillah Sambas, Uray Riza Fahmi.

Menurut dia, pemudalah menjadi solusi menekan paham radikalisme yang mulai menyerang generasi mereka tersebut.

“Pemuda yang menjadi sasaran radikalisme, maka merekalah yang mesti diselamatkan, caranya yaitu mereka harus terlibat dalam banyak kegiatan yang sifatnya membaur, bersatu meskipun beragam, serta tidak mudah terprovokasi oleh hal-hal yang bisa memecah belah bangsa ini,”ujarnya.

Kunci lainnya kata Uray Riza Fahmi adalah memperkuat pagar local wisdom dan budaya, sebagai filter masuknya paham radikal tersebut.

“Pengalaman orang tua, bukan hanya dirumah namun juga kami yang lebih tua, yang tumbuh bersama budaya yang kaya dan beragam merasakan bahwa budaya menjadi tameng yang kuat untuk menangkal ini, karena itu menyelamatkan pemuda dari paham radikal juga merupakan tugas kita semua,”tukasnya.

Cara lainnya untuk menyelamatkan generasi muda kata Uray Riza, adalah juga dengan mengingatkan mereka, bahwa karena pemuda jugalah Indonesia ini ada.

“Mengingatkan bahwa negeri ini dibangun oleh pemuda, dan kembali pada sejarah masa lalu, bahwasanya NKRI ini muncul, juga satu diantara atas perjuangan pemuda, alasan ini mesti dipantik untuk menangkal paham radikalisme, pemuda yang mencintai NKRI tak akan mau memecah belah kesatuan, dengan terlibat dalam paham dan tindakan radikalisme,”tegas dia.

Penguatan akan hal ini juga disampaikan tokoh masyarakat Kabupaten Sambas lainnya, Uray Bima.

Menurut dia, justru budaya lah yang selama ini turut menjaga Kabupaten Sambas dan sekitarnya dari paham radikalisme.

“Kita melihat bahwa paham radikal ini muncul dalam konteks aliran agama, keinginan perubahan secara sporadis aliran ini sememangnya berbahaya bagi keberlangsungan kesatuan kita,”papar dia.

Lalu bagaimana budaya bisa menjadi penyeimbang, atau bahkan mereduksi paham radikal dalam suatu aliran tertentu.

“Saya pernah mendengar ungkapan ada pihak yang ingin mengembalikan Islam pada bentuk yang mereka inginkan, dalam persepsi aliran yang mereka anut, aliran ini menuding Islam di Kabupaten Sambas sebagai Islam kehinduan, ini patut ditelusuri kacamata seperti apa yang mereka pakai,”ujar Uray Bima.

Dalam tatanan kehidupan di Kabupaten Sambas, konsep saling mengisi antara Budaya dan Agama sememangnya sangat terasa. Namun inilah yang selama ini menjadi tameng sakti anti radikal.

“Bukan mencampur adukkan, namun saling mengisi antara budaya dan agama, masyarakat kita sangat menjunjung tinggi adat budaya, tapi agama adalah yang paling utama, karenanya mereka mengisi kegiatan budaya dengan lantunan Alquran dan sebagainya, malah kita telah menggeser kegiatan budaya dengan sebuah kearifan lokal agar tidak terjadi gesekan diantara keduanya,”tuturnya.

Jika pendekatan Budaya merupakan serum ampuh untuk menangkal paham radikal, lantas bagaimana pendekatan ini mesti diterapkan.

Pengamat Sosial Politik Kalbar, Ireng Maulana mengatakan, Pendekatan Budaya bisa jadi merupakan metodelogi yang bias diandalkan untuk menangkal tumbuh kembang paham radikal.

Esensi ini kuat dikarenakan budaya dilahirkan dalam proses asimilasi personal masyarakat yang telah disepakati.

Menurutnya, budaya merupakan produk dari kesepaktan sekelompok orang yang lahir dari repons mereka menghadapi perkembangan kehidupan, yang mereka jalani dalam kurun waktu yang memungkinkan, dan kesepaktan tersebut di terima turun-temurun,”ucapnya.

Nilai tambah budaya sebagai serum bagi virus radikalisme kata Ireng Maulana, lebih dikarenakan budaya memiliki flesksibilitas, hal ini membuat banyak orang bisa menerimanya dengan amat baik

“Budaya tentu saja dinamis, dapat dilupakan atau menumbuhkan kesepakatan baru sesuai tantangan yang dihadapi. Jika pendekatan budaya yang dimaksud adalah kearifan dalam sebuah masyarakat atas prakarsa generasi terdahulu, maka kemampuan budaya untuk menangkal paham radikal cukup dapat di andalkan,”tegas dia.

Dapat dikatakan bahwa budaya berada dalam perannya sebagai pengendali sikap atau situasi yang melampaui batas kewajaran, dalam hal ini paham radikalisme.

Kesepakatan antar manusia yang telah mendarah daging ini, juga mampu hadir sebagai Power Ballance, memberikan kesinambungan seandainya terjadi ketidak seimbangan yang bertentangan dalam konteks kehidupan yang berbudaya.

“Budaya akan berusaha menarik titik keseimbangan untuk menghindari kerusakan, kedurhakaan atau peristiwa yang akan berujung bencana. Pendekatan budaya menempuh ikatan yang paling bisa dimengerti oleh manusia. Oleh karena itu, budaya dapat membangkitkan kesadaran alamiah manusia untuk memiliki pikiran atau karakter yang mendukung keberadaan orang lain secara konstruktif. Paham radikal dapat ditangkal dengan pendekatan budaya yang paling sesuai dengan kondisi kemanusiaan seseorang,”tekannya.

Menyepakati budaya sebagai obat atas penyakit paham radikal ini berarti, haruslah memberi ruang bagi metode pendekatan tersebut.

“Budaya dapat menangkal paham radikal jika di libatkan secara komprehensif. Dapat dikatakan pendektan untuk menangkal paham radikal lebih bernuansa represif, penekanan dan sinisme. Budaya tidak bergerak dalam situasi yang dapat menimbulkan benturan baru melainkan jalan memutar yang memerlukan proses pendalaman mindset yang memungkinkan penerimaan akan nilai-nilai terjadi. Paham memerlukan argumentasi budaya untuk menjernihkan sisinya yang berpotensi untuk disalahgunakan, atau paling lemah untuk terkontaminasi kepentingan”runutnya.

Lantas mampukah budaya turut menyelamatkan generasi muda atau setidaknya menjadi tameng sakti pemuda dan pemudi pertiwi, agar tak mudah terkontaminasi.

Ireng Maulana mengatakan, budaya harus lebih lentur dan mampu menjelma sebagai sesuatu yang bisa mereka, para pemuda dan pemudi gandrungi.

“Pada prinsipnya nilai dan kearifan di dalam budaya yang dianggap mampu menangkal paham radikal tidak dapat dipenetrasi secara paksa kedalam generasi muda, budaya hanya perlu dicarikan jalan untuk mereka serap dengan cara mereka sendiri,”katanya.

Ini berarti, serapan nilai budaya haruslah terjadi dengan cara mendesainnya sesuai gambaran dan paradigma generasi muda, namun tidak serta merta mengurangi nilai, apalagi menghilangkan budaya itu sendiri.

“Generasi muda dapat diperkenalkan kepada jalan menuju pengamalan budaya yang mampu mengurangi residu paham radikal. Dengan menawarkan mereka untuk aktif berkreatifitas adalah jalan budaya untuk menghindarkan generasi muda kepada praktek kekerasan, dalam hal ini budaya harus dapat bertransformasi kepada mindset konstruktif positif anak muda, bawa mereka kepada opsi budaya yang sesuai dengan alam pikiran dan karakter semangat generasi muda,”jelasnya.

Lalu bagaimana jika budaya juga di kambinghitamkan karena berasimilasi dengan agama, ini bahkan menjadi alasan penganut paham radikal untuk berkembang.

“Agama tidak mengajarkan paham radikal yang menyebakan kerusakan, demikian pula dengan budaya sebagai salah satu pendekatan lain yang mendekatkan kita pada pentingnya praktek kehidupan yang  tidak membuat kerusakan. Agama dan budaya dalam dalil ini seharusnya saling mendukung dalam menolak paham radikal yang merusak dan berorientasi pada kekerasan, dan penistaan terhadap kemanusiaan,”pungkasnya.

Akan tetapi di Bumi Sambas, kekhawatiran kita akan sel radikalisme juga mulai sedikit terobati, jika memang budaya yang menjadi penawarnya, Kabupaten ini sudah memiliki ramuan ampuhnya.

Malam itu beberapa pemuda berkumpul di sebuah cafe di tepi jalan raya kota tebas, kecamatan tebas, kabupaten sambas. 

Belasan pemuda ini kontras dengan para pengunjung lainnya,mereka menggunakan pakaian khas melayu zaman diraja, bercelana panjang diatas mata kaki, berbaju rompi lengan panjang, berkain setengah tiang atau berbelat genteng, dan memakai sengkek kebanggaan.

Seluruh bahan pakaian terbuat dari kain benang emas songket sambas, meski tanpa keris kebesaran, apa yang dipakai para pemuda ini seolah kembali menggetarkan hati para puak melayu sambas, mengingatkan kembali kepada generasi bahwa beginilah gagahnya para pemuda melayu dahulu, tanpa embel aliran, tanpa sebutan kanan atau kiri.

“Tujuan kami adalah mencari dan menggali falsafah hidup tamadun melayu, kami ingin mengingatkan kembali, mendeskripsikan bagaimana rasa bangga dengan memakai pakaian khas lelaki melayu, kami membuat sendiri penutup kepala yang disebut sengkek ini,”ujar Azman satu diantara pemuda tersebut.

Kekhawatiran akan terkikisnya nilai nilai melayu dalam kehidupan masyarakat bahkan didalam darah melayu itu sendiri menyeruak di sanubari para pemuda tersebut.

Terlebih hantaman demi hantaman menerjang generasi muda Bumi Sambas seolah tak kunjung jeda, Narkoba, asusila dan wabah paham radikal beruapaya menggerogoti daerah yang dulunya dijuluki serambi mekahnya Kalimantan Barat ini. 

Karenanya ada kala dimana  belasan pemuda tersebut melakukan kampanye untuk tak sekedar mengetahui kita melayu, tetapi juga menanamkan kembali nilai religi dan budaya melayu yang selalu termaktub dan menjadi nilai perilaku di Sambas.

“Kami biasa memakai pakaian melayu seperti ini di cafe-cafe atau tempat nongkrong muda mudi di Kecamatan Tebas, kami ingin mengenalkan kembali nilai khazanah melayu yang sarat akan nilai religi serta moral, anak muda di Sambas terancam bahaya narkoba dan paham radikalisme yang makin meraja, serta asusila yang kian menyandera, kami sangat khawatir akan hal ini, karenanya dengan tamaddun melayu kami yakin akan kembali mengingatkan para remaja dan orang tua bahwa kita melayu dan melayu adalah bangsa yang kuat secara religi, santun serta memiliki moral yang tinggi, bukan aliran manapun, serta adat agama yang utama, bukan paham isme yang bertujuan porak poranda, menjaga pergaulan serta berbakti,”runut Azman.

Kendati demikian, mengenalkan kembali budaya bagi komunitas ini bukanlah hanya tentang busana dan cerita, falsafah tak cuma sebatas sikap dan cara bertindak, akan tetapi cermin diri dan mencintai NKRI.

“Kami juga masih sangat memerlukan bimbingan dari tokoh masyarakat, para tetua dan mereka yang lebih paham tentang ragam bangsa melayu,”ujar Azman.

Penampilan bak hang tuah ini juga diakui menarik banyak mata, tak cuma remaja dan warga biasa, Pangeran Ratu Muhammad Tarhan selaku pemegang tampuk kuasa kesultanan Sambas juga memberikan apresiasi positif.

“Mantap komunitas ini, nanti kita atur waktu bertemu saat saya pulang kesambas, kita kopi bareng,”ujar Pangeran Ratu yang saat ini sedang menyelesaikan studinya di Bandung.

Bermacam bentuk aktualisasi budaya melayu juga dirasakan mulai pupus dan tergerus zaman serta peradaban, karenanya belasan pemuda puak melayu ini juga menumpahkan nilai melayu tersebut pada beragam media bermacam cara.

“Kami selalu berusaha mendeskripsikan ragam melayu dalam pelbagai cara dan media, diantara kami ada yang menumpahkannya melalui lukisan, menggerakkannya lewat tarian, menyuarakan lewat nyanyian dan membuatnya utuh lewat seni melipat sengkek atau tanjak,”tuturnya.

Sejauh ini memang, upaya mempertahankan budaya melayu berlangsung secara saremonial di Sambas, entah itu lewat acara hajatan seperti pernikahan dan syukuran. Namun tak banyak yang menampilkan visualisasi utuh busana melayu seperti yang dilakukan komunitas tamaddun melayu ini.

Visualisasi adat dan budaya ini kata Azman merupakan sebuah bukti bahwa Budaya dan Agama adalah seiring saling mengisi, sedangkan radikalisme merupakan anti dari keduanya, karena berasaakan paham kekerasan.

“Berbudaya melayu, berarti ber Islam seperti yang diajarkan oleh Nabi dan para wali, dengan demikian pemuda yang mencintai budaya, sudah barang tentu beragama, dan asimilasi ini memberikan kita jalan hidup yang damai, hidup damai berarti tanpa paham radikalisme, karena yang menganut itu sesungguhnya adalah penjajah yang memaksakan kehendaknya,”pungkasnya.

Layak untuk diikuti dicontoh dan diteladani, bersikap melayu bertutur melayu, berpegang teguh pada norma timur dan syariat agama islam dalam berlaku.


Yuk Bagikan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *