JPU hadirkan saksi dan ahli beserta barang bukti disidang Jumardi

Yuk Bagikan!

Pelaksanaan sidang secara virtual di Pengadilan Negeri Sambas.

Pojokkata.com,- Terdakwa kasus jual beli burung bayan yang merupakan satwa dilindungi menjalani sidang kedua pokok perkara via online dengan agenda sidang pembuktian/pemeriksaan saksi dan ahli yang bertempat di Ruang Utama Sidang PN Sambas, Selasa (27/04/21).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) hadirkan dua orang saksi dari Penegakan Hukum Linkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum) dan satu orang saksi ahli dari BKSDA Kalbar serta dua orang saksi yang hadir via online dari Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kuburaya.

Pada sidang sebelumnya saksi sempat dipanggil tetapi tidak hadir di agenda sidang pertama dan pemeriksaan saksi.

Hingga hari ini sidang semula yang akan dijadwalkan pukul 10:15 WIB sempat tertunda dikarenakan menunggu saksi yang sedang dalam perjalanan menuju PN Sambas, dan baru dimulai pukul 12: 35 yang dibuka oleh ketua majelis hakim persidangan.

Adel, selaku penasihat hukum memberikan tanggapan berdasarkan keterangan saksi Gakkum melakukan penahanan terhadap Jumardi berdasarkan informasi dan akun Facebook

“Mengenai prosedur penangkapan memang tidak ada aturan untuk itu kalau menurut UU No 5 Tahun 1999 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Pasal 39 tidak ada aturan yang menentukan sikap polisi atau pegawai negeri sipil berwenang atau tidak untuk melakukan penangkapan tersebut,” katanya.

Adel juga menuturkan keterangan singkat saksi yang di Kecamatan Batu Ampar mengatakan bahwa Burung Bayan tersebut merupakan hama yang selalu datang dengan populasi banyak untuk memakan buah kelapa sawit.

“Kalau menurut saksi dua orang yang di Batu Ampar, Kecamatan Kuburaya yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum itu satu orang tidak mengetahui Burung Betet hanya mengetahui Burung Bayan.

“Burung Bayan yang saya ketahui memakan buahi Kelapa Sawit yang mana jika burung tersebut datang jumlahnya bisa ratusan ekor dan biasanya orang-orang juga menyebutnya dengan hama sebagaimana yang dikatakan oleh dua orang saksi tadi karena memakan buah Kelapa Sawit,” tuturnya.

Adel berharap semoga tidak ada korban lain seperti Jumardi kedepannya, dan kepada pihak yang berwenang untuk semakin gencar mensosialisasikan satwa yang dilindungi kepada masyarakat khususnya masyarakat yang di kampung.

“jikalau ada kasusu lagi seperti ini yang terjerat bukan orang kota tetapi bisa dipastikan orang-orang di kampung.

“Saya sangat menyarankan kepada pemerintah khususnya BKSDA untuk memberikan sosialisasi atau penyuluhan kepada masyarakat yang ada di Kalimantan Barat agar tidak ada korban lagi seperti Jumardi,” tutup Adel.

Selanjutnya sidang akan kembali digelar pada Selasa, 04 Mei 2021 dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dan ahli dari penasehat hukum Jumardi. (Nik)


Yuk Bagikan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *