Perang Moderen, Rekayasa Cuaca dan Bioterorisme

Yuk Bagikan!

Ilustrasi : Perang Rekayasa Cuaca.
Ket: Sumber Foto The Guardian.

Pojokkata.com – Sejumlah ilmuwan lingkungan dunia mengkhawatirkan proyek CIA yang punya keinginan untuk merekayasa cuaca sebagai senjata. Rekayasa tersebut dikenal dengan istilah Geoengineering yang tujuan utamanya untuk mengatasi pemanasan global dengan cara menghilangkan atau mengurangi kandungan karbondioksida di atmosfer.

Dalam tujuan yang sebenarnya rekayasa tersebut hanya dilakukan di sejumlah titik di permukaan bumi. Namun apa yang akan dikembangkan CIA jauh lebih besar dan dampaknya. Menurut para ilmuwan, dampaknya sangat mengerikan sebagaimana dilansir dari The Guardian.

Alan Robock, seorang ilmuwan yang mempelajari dampak dari radiasi nuklir di tahun 1980-an, memperingatkan CIA yang mendanai Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional untuk penelitian tentang tujuan yang berbeda dari rekayasa cuaca.

Menjadikan cuaca sebagai senjata memang bukan hal baru. Dokumen pemerintah Inggris menyatakan 99 tahun lalu, satu dari enam percobaan militer di Statsiun Orford Ness di Suffolk dilakukan untuk membuat awan buatan. Tujuannya untuk mengganggu serangan udara Pasukan Jerman di Perang Dunia I.

Namun percobaan itu gagal. Tapi konsep tersebut akhirnya menjadi kenyataan pada tahun 1967, ketika Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui Operasi Popeye berhasil membuat awan buatan. Dalam perang Vietnam, AS berhasil meningkatkan curah hujan di negara bekas komunis tersebut sebanyak 30 persen dengan awan buatan. Hal itu sebagai usaha untuk menghambat gerak pasukan Vietkong.

Robock mengingatkan rekayasa cuaca seharusnya digunakan untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan kelangsungan hidup manusia bukan sebagai senjata.

Melalui Operasi Popeye AS Berhasil Gunakan Senjata Rekayasa Cuaca.

Ini adalah proyek rahasia yang diharapkan dapat membuat Amerika Serikat (AS) memenangkan Perang Vietnam.

Saat itu, Perang Vietnam telah berlangsung selama lebih dari satu dekade dan mengakibatkan lebih dari 8.000 tentara AS meninggal.

Pemerintah AS pun memiliki ide dengan melihat ke langit, ya, dengan merekayasa cuaca. Rekayasa cuaca dilakukan dengan pembibitan awan. Yakni metode untuk merangsang presipitasi buatan, seperti hujan atau salju.

Praktik ini diperkirakan berasal pada tahun 1946, saat Vincent Schaefer, seorang ahli kimia melakukan eksperimen.

Schaefer memperhatikan bahwa inti kondensasi awan dapat direkayasa dan dibuat untuk menciptakan hujan atau salju.

Dari Maret 1967 hingga Juli 1972 militer AS pun diketahui menghabiskan lebih dari 3 juta Dollar AS per tahun untuk usaha rahasia ini.

Operasi Popeye ini kemudian bocor pada 1971 dan dibantah oleh pejabat pemerintahan Nixon.

Kemudian pada Juli 1972 New York Times menerbitkan kisah mereka sendiri tentang operasi Popeye dengan rincian tersendiri.

Setelah rincian Operasi Popey dipublikasikan, para legislator pun mulai mendorong sebuah perjanjian internasional. Yakni perjanjian yang melarang pengunaan rekayasa cuaca dalam peperangan.

Perjanjian internasional ini melarang militer melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan “gempa bumi, tsunami, perubahan cuaca, perubahan arus laut, perubahan lapisan ozon, dan perubahan keadaan ionosfer”.

Serangan Bioterorisme

Sebagaimana dikutip cnnndonesia.com, Bill Gates memperingatkan publik dunia, kini sudah waktunya untuk menghadapi bahaya yang sangat besar di seluruh dunia yaitu ancaman serangan teroris dengan memakai bahan-bahan kimia, biologi, dan sebagainya seperti virus yang bisa menyebarkan wabah penyakit atau yang dikenal dengan bioterorisme.

“Ancaman bioterorisme melebih bahaya perang nuklir dan perubahan iklim,” kata Gates dalam Konferensi Keamanan di Jerman, Sabtu (18/2/2017) waktu setempat, yang salinan pidatonya diterbitkan oleh Business Insider.

Gates menekankan pentingnya dilakukan hal tersebut di seluruh dunia untuk persiapan dalam menghadapi salah satu ancaman yang sangat besar yang disebutnya sebagai pandemi yang sudah sangat nyata di depan mata.

“Apakah itu terjadi karena faktor alam atau di tangan teroris, ahli epidemiologi mengatakan patogen udara yang bergerak cepat bisa membunuh lebih dari 30 juta orang dalam waktu kurang dari satu tahun,” katanya.

“Dan mereka mengatakan ada kemungkinan dunia akan mengalami penyebaran tersebut dalam waktu 10 sampai 15 tahun.”

Dia lantas menyebut bahwa ancaman pandemi terbaru nantinya bakal lebih mematikan dari kasus wabah flu mematikan yang terjadi secara alami pada 1918 silam yang menewaskan antara 50 juta hingga 100 juta orang, “kata Bill Gates.

Sebagian Artikel ini sudah ditayangkan Intisari_Online: Bak Meminjam Tangan Dewa, Amerika Pernah Rekayasa Cuaca untuk Perang.


Yuk Bagikan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *